Pada hari Rabu, 23 Oktober, Radio Republik Indonesia (RRI) melaksanakan siaran bertajuk “Cerdas di Era Digital: Hindari Bahaya Self-Diagnosis dari Google”.
Program edukatif ini menghadirkan dua narasumber dari PIONEER FF UNEJ, yaitu Putri Adilia Ananda dan Florensia Grace Claudia F.

Siaran diawali dengan pembahasan mengenai fenomena self-diagnosis, yaitu kebiasaan seseorang menebak penyakitnya sendiri berdasarkan informasi dari internet, khususnya dari Google, tanpa pemeriksaan medis yang valid. Narasumber menjelaskan bahwa meskipun pencarian gejala di internet tampak praktis, tindakan ini berisiko karena diagnosis medis sejati memerlukan pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan, serta uji laboratorium oleh tenaga ahli.

Selanjutnya dijelaskan alasan mengapa banyak orang melakukan self-diagnosis, mulai dari rasa penasaran, keterbatasan waktu dan biaya, hingga ketakutan terhadap hasil diagnosis dokter. Namun, kemudahan akses informasi di internet sering membuat masyarakat salah langkah, karena tidak semua informasi daring bersumber dari data medis yang benar.

Dalam pembahasan berikutnya, narasumber menguraikan bahaya dari self-diagnosis. Risiko paling besar adalah salah diagnosis dan salah penggunaan obat, yang dapat memperparah penyakit atau menimbulkan efek samping baru. Tak hanya itu, self-diagnosis juga dapat berdampak pada kesehatan mental, menimbulkan kecemasan berlebihan (cyberchondria), bahkan gangguan tidur dan stres akibat overthinking.

Untuk membantu masyarakat mencari solusi yang aman, narasumber memperkenalkan berbagai aplikasi konsultasi kesehatan daring seperti Halodoc, Alodokter, KlikDokter, dan YesDok, yang memungkinkan pasien berkonsultasi langsung dengan tenaga medis terpercaya.

Florensia dan Putri juga menekankan pentingnya membedakan antara self-diagnosis dan self-awareness.
Self-awareness berarti kesadaran diri terhadap kondisi tubuh, seperti mengetahui kapan perlu istirahat atau berobat, hal ini justru positif. Namun, self-diagnosis berarti mengambil keputusan medis sendiri tanpa dasar ilmiah, yang berpotensi membahayakan.

Selain itu, dijelaskan pula bagaimana algoritma Google dapat membuat orang semakin yakin pada hasil diagnosisnya sendiri. Karena Google menampilkan hasil populer, bukan yang paling akurat, pencarian gejala ringan bisa menimbulkan kekhawatiran serius.

Narasumber menegaskan bahwa literasi kesehatan digital menjadi kunci utama agar masyarakat dapat bijak menggunakan informasi kesehatan di internet. Cek kredibilitas sumber, pastikan situs resmi, perhatikan penulisnya, dan jangan lupa tetap konsultasi langsung ke dokter atau apoteker.

Di akhir siaran, para narasumber menyampaikan pesan penting kepada masyarakat:

“Jadilah pengguna internet yang cerdas, bukan yang asal percaya.
Google boleh membantu mencari informasi, tapi diagnosis tetap milik tenaga medis profesional.”

Siaran berlangsung dengan lancar, interaktif, dan mendapat respon positif dari pendengar.
Dengan demikian, berita acara ini dibuat sebagai dokumentasi resmi pelaksanaan siaran edukatif Radio Republik Indonesia (RRI) pada tanggal tersebut.

Related posts